Selasa, 25 November 2014

Perdukunan Cara Yahudi Membuang Kitab Allah



Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari fihak Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung) nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah). (QS. 2/Al-Baqarah :101)

Tatkala Rasulullah diutus Allah sebagai Rasul, orang-orang Yahudi mempertentangkan Al-Qur’an dan Taurat, mereka membantah Al-Qur’an. Kemudian ternyata Taurat terbukti cocok dengan Al-Qur’an, maka mereka mencampakkan Taurat dan mereka berpegang pada kitab Aashif (sekretaris Nabi Sulaiman) dan sihr Haarut dan Maarut maka Al-Qur’an dan kitab Aashif (sekretaris Nabi Sulaiman) itu tidak cocok satu sama lain. Itulah yang disebut bahwa seolah-olah mereka tidak tahu.


Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan tidaklah diturunkan atas dua malaikat di negeri Babil pada Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS. 2/Al-Baqarah:102)


Al-Aufa berkata dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas tentang firman Allah : “Dan mereka mengikuti apa yang ditilawahkan para syaithan …. “ dst. Dan adalah ketika kerajaan Sulaiman tidak ada, sekelompok kalangan jin dan manusia murtad (kembali kafir) dan mengikuti syahwat. Maka tatkala Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengembalikan kepada Sulaiman kerajaannya itu sedangkan kelompok manusia menjalankan ajaran hidup yang sebagaimana telah ada. Dan sesungguhnya Sulaiman telah mengetahui rahasia kitab-kitab mereka maka Sulaiman menguburnya di bawah kursi (singgasana)-nya. Dan telah cukup pada Sulaiman pengada-adaan sedemikian itu. Kemudian kalangan manusia dan jin itu mengetahui kitab-kitab itu setelah wafatnya Sulaiman dan mereka mengatakan :
“Inilah kitab dari Allah yang Allah turunkan kepada Sulaiman kemudian dia menyembunyikannya dari kita” Kemudian mereka mengambil kitab itu dan menjadikannya ajaran hidup.
Maka Allah menurunkan ayat yang artinya :
Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari fihak Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung) nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah). (QS. 2/Al-Baqarah :101). Dan mereka mengikuti syahwat yang ditilawahkan kepada mereka oleh para setan-setan dan itu adalah musik nyanyian, permainan dan setiap sesuatu yang menghalangi dari ingat pada Allah.   (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Darul Fikr, Beirut, Jilid I, hal. 135)

Firman Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa :

"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman.
Sulaiman tidaklah kafir, namun setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajari manusia sihir."

As-Suda berkata, "Setan-setan (dari kalangan jin) suka naik ke langit. Di sana mereka mengambil tempat di beberapa posisi untuk mencuri dengar khasanah pembicaraan para malaikat. Mereka menyimak pembicaraan para malaikat ihwal perkara yang akan terjadi di bumi seperti kematian, hal gaib, atau persoalan tertentu. Kemudian mereka mendatangi para dukun untuk memberi mereka informasi. Para dukun itu menginformasikan kepada khalayak sehingga mereka mendapati kesesuaian antara kejadian dan ucapan dukun. Setelah para dukun mempercayai setan (dari kalangan jin), maka mereka berdusta dan menambahi informasi palsu sehingga satu kalimat menjadi tujuh puluh kalimat. Kemudian orang-orang menulis percakapan itu dalam berbagai buku sehingga menyebarlah berita pada Bani Israel bahwa jin mengajari kegaiban. Kemudian diutus Nabi Sulaiman kepada mereka. Beliau mengumpulkan buku-buku (perdukunan) itu dan disimpan dalam peti, kemudian dikubur di bawah singgasananya. Tidak ada satu setan pun yang berani mendekati singgasana tersebut melainkan dia akan terbakar. Sulaiman berkata, 'Saya tidak mendengar seorang pun yang menceritakan bahwa setan itu mengajarkan kegaiban melainkan akan kupenggal lehernya."

Setelah Sulaiman ‘alaihis-salaam meninggal dan para ulama yang mengetahui persoalan Sulaiman pun telah wafat, kemudian diganti oleh suatu generasi, maka setan jin menampilkan diri dalam wujud seorang manusia. Kemudian dia mendatangi sekelompok Bani Israel seraya berkata, "Maukah kalian kutunjukkan timbunan harta yang tak pernah kalian raup selamanya?" Mereka menjawab : Ya. Setan berkata, "Galilah di bawah singgasana Sulaiman." Kemudian setan pergi bersama mereka guna menunjukkan tempatnya, sedang setan berdiri di pinggir. Mereka berkata kepada setan, "Turunlah!" Setan menjawab, "Tidak, aku di sini saja menyertai kalian. Jika kalian tidak menemukannya, maka bunuhlah aku!" Kemudian mereka menggali dan akhirnya menemukan buku-buku sihir tersebut. Setelah mereka mengeluarkannya, setan berkata, "Sesungguhnya Sulaiman itu dapat mengendalikan manusia, jin, dan burung berkat sihir ini sehingga ia bisa terbang dan pergi." Maka gemparlah di masyarakat bahwa Sulaiman itu tukang sihir. Kemudian Bani Israel mengambil buku-buku sihir tersebut.

Ketika Muhammad bin Abdullah datang, Bani Israel mendebat beliau dengan buku-buku itu. Itulah yang dimaksud dalam firman Allah,
"Dan tidaklah Sulaiman itu kafir, namun setanlah yang kafir."

Ibnu Abi Hatim dari Abu Sa’id Al-Asyajji dari Abu Usamah dari Al-A’masy dari Al-Minhal dari Said bin Jubeir dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Ashif, sekretaris Sulaiman, mengetahui nama yang paling agung (al-Ismul-A'zham). Dia menulis segala sesuatu atas perintah Sulaiman dan menguburnya di bawah singgasananya. Setelah Sulaiman meninggal, maka setan mengeluarkannya dan mereka menuliskan (kalimat-kalimat) kekafiran dan sihir di antara baris-baris buku tersebut, kemudian mengatakan, 'Inilah yang dijadikan pedoman kerja oleh Sulaiman."
(Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Darul Fikr, Beirut, Jilid I, hal. 135)

Kesimpulannya ialah bahwa setelah kaum Yahudi -- yang telah diberi kitab itu -- berpaling dari Kitab Allah yang ada di tangan mereka dan menyalahi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka mengikuti apa yang dituturkan oleh setan (jin), yakni apa yang diceritakan, diinformasikan, dan dikisahkan oleh setan (jin) pada masa kerajaan Sulaiman.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa :
"Dan tidaklah diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajari seorang pun sebelum keduanya mengatakan, "Sesungguhnya kami adalah ujian, maka janganlah kamu kafir." Maka mereka belajar dari keduanya sesuatu yang dapat memisahkan seseorang dari istrinya.

Kaum Yahudi berkeyakinan bahwa Jibril dan Mikail ‘alaihimas-salaam adalah dua malaikat yang menurunkan sihir kepada Sulaiman ‘alaihis-salaam. Lalu Allah mendustakan mereka dan memberitahukan kepada Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Jibril dan Mikail tidaklah menurunkan sihir. Allah juga menyucikan Sulaiman dari perbuatan sihir yang mereka tuduhkan kepadanya. Allah memberitahukan kepada Bani Israel bahwa sihir merupakan perbuatan setan yang diajarkan kepada manusia di Babil, dan orang yang mengajarkannya ialah dua laki-laki yang bernama Harut dan Marut. Jika ditafsirkan demikian, maka man dalam kata wamaa unzila 'alal-malakaini merupakan man nafyi, bukan sebagai isim maushul yang bermakna 'yang'.

Al-Qurthubi berkata, "Maa merupakan negasi dan di-'athaf-kan kepada wamaa kafara sulaimaanu." Kemudian Allah berfirman, "Namun setanlah yang kafir; mereka mengajarkan sihir kepada manusia. Dan tidaklah diturunkan kepada dua malaikat...." Hal itu karena kaum Yahudi beranggapan bahwa sihir itu diturunkan oleh Jibril dan Mikail, lalu Allah mendustakan mereka dan kata Haaruuta wa Maaruut merupakan badal 'pengganti' dari setan. (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Darul Fikr, Beirut, Jilid I, hal. 137-138)

Firman Allah Subhaanhu wa Ta’aalaa :

"Kemudian mereka mempelajari dari keduanya sesuatu yang
dapat memisahkan antara seseorang dan istrinya."

Artinya, manusia belajar dari Harut dan Marut berupa ilmu sihir yang mereka gunakan untuk hal-hal tercela apa yang bisa memisahkan antara suami dan istrinya melalui sihir bersamaan apa yang terdapat dalam keluarga berupa kerukunan dan keserasian, dan itu adalah perbuatan setan.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam sahihnya :

Dari Al-A’masy dari Abu Sofyan Thalhah bin Nafi’ dari Jabir dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
 "Setan itu meletakkan singgasananya di atas air. Kemudian dia mengutus pasukannya kepada manusia. Maka manusia yang paling dekat kedudukannya dengan setan berarti paling besar pula mendapat ujian dari setan. Seorang anggota pasukan datang melapor, 'Saya terus menggarap si Fulan sebelum aku meninggalkannya
dalam keadaan dia mengatakan begini dan begini. 'Kemudian Iblis berkata, 'Demi Allah, kamu tidak melakukan apa pun terhadapnya.' Kemudian anggota pasukan lain datang melapor, 'Aku tidak meninggalkan manusia sebelum aku berhasil menceraikan antara dia dan istrinya. Lalu mendekatinya, mengakrabinya, dan menempelnya.' Iblis berkata, 'Bagus kamu.'" (HR Muslim)
(Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Darul Fikr, Beirut, Jilid I, hal. 144; Al-Bidayah wa An-Nihayah, Juz I, hal. 63)

Penyebab perceraian antara suami dan istri ialah gambaran buruk ketika melihat wajah suami atau istri dan perilakunya yang diimajinasikan oleh setan kepada suami dan istri, atau sebab-sebab lain yang mengantarkan kepada perceraian. Allah Subhaanhu wa Ta’aalaa  berfirman :
"Dan sekali-kali mereka tidak memberikan mudharat, dengan sihirnya, kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah." Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, "Kecuali dengan qadha Allah." Hasan al-Bashri berkata, "Benar, barangsiapa yang dikehendaki-Nya, maka ia dikuasai setan.

Dan siapa yang tidak dikehendaki-Nya, maka tidak dukuasai setan." Firman Allah Subhaanhu wa Ta’aalaa  :
 "Dan mereka mempelajari sesuatu yang memudharatkan mereka dan tidak memberinya manfaat," yakni memudharatkan ajaran hidup mereka dan tidak memberinya manfaat yang sepadan dengan kemudharatannya.

"Sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang menukarnya dengan sihir itu, maka tidak ada bagian untuknya di akhirat." Yakni, sesungguhnya kaum Yahudi sudah mengetahui bahwa orang yang menukarkan ketundukan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan sihir tidak akan mendapat bagian di akhirat. Demikianlah tafsir Ibnu Abbas, Mujahid, dan as-Sadi.

Firman Allah :
"Dan alangkah buruknya perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, jika mereka
mengetahui." Allah Subhaanhu wa Ta’aalaa  berfirman, betapa buruknya penggantian keimanan dan ketaatan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan sihir yang telah mereka lakukan, seandainya mereka mengetahui nasihat yang diberikan beliau; seandainya mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam serta para rasul lain sebelumnya; dan seandainya mereka memelihara diri dari hal-hal yang diharamkan, niscaya balasan nilai amal bagi mereka dari fihak Allah adalah lebih baik bagi mereka daripada apa yang dipilih dan disukai untuk dirinya.
Thiyarah dan Mendatangi Dukun

Abu Muhammad bin Nadzir bin Jannah Al-Qadhy di Kufah dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Dahim dari Ahmad bin Hazim bin Abi Ghurzah dari Al-Fadhl bin Dakin dan ‘Ubaidullah bin Musa dan Tsabit bin Muhammad Al-Kanany, mereka berkata dari Sofyan dari Abu Ishaq dari Hubairah bin Yarim dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata :
Barangsiapa mendatangi tukang sihir, dukun, peramal, kemudian ia membenarkannya pada apa yang dikatkannya maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan atas Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bayhaqy)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: ‘Ini disebabkan (usaha) kami.’ Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang bersamanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” [QS. 7/Al-A’raaf: 131]

Dari Muhammad bin Katsir dari Sofyan dari Salamah bin Kuhail dari Isa bin ‘Ashim dari Zir bin Hubaisy dari Abdullah bin Mas’ud dari Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.”  (HR. Abu Dawud)

Abul Yaman menceritakan kepada kami dari Syu’aib dari Az-Zuhry dari Abu Salamah bin Abdurrahman bahwasanya Muawiyah bin Al-Hakam As-Sulamy dan adalah dia itu sahabat, ia berkata : Aku bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : Bagaimanakah menurut engkau ( ya Rasulullah) perkara-perkara yang kami melakukakannya di masa Jahiliah. Kami berthiyarah ?
Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Itu adalah sesuatu yang akan kalian temui dalam diri kalian, maka sungguh janganlah itu menghalangi kalian!’”
Maka aku bertanya (lagi) : kami mendatangi dukun tukang tenung.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Jangan kalian mendatangi dukun tukang tenung ! (HR. Ahmad)

Hasan meriwayatkan kepada kami dari Ibnu Luhai’ah dari Ibnu Hubairah dari Abu Abdurrahman Al-Jubuly dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Barangsiapa mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” Para Sahabat bertanya: “Lalu apakah tebusannya?” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur) melainkan makhluk-Mu dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.’” HR. Ahmad (II/220), dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam Tahqiiq Musnad Imam Ahmad (no. 7045). Lihat :  Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1065).


Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, sungguh balasan nilai amal dari fihak Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui. (QS. 2/Al-Baqarah : 103)

Senin, 03 November 2014

Pembinatangan Manusia



QS. 2/Al-Baqarah : 99 - 101

Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik. (QS. 2/Al-Baqarah :99)

Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka mencampakkannya? Bahkan sebahagian besar dari mereka tidak beriman. (QS. 2/Al-Baqarah : 100)

Seharusnya mereka sebagaimana do’a Musa ‘Alaihis-salam :

Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami". (QS.7/Al-A’raaf : 156)

Bukankah Yahudi disebut Yahudi diantaranya karena kata yang digunakan Musa ‘alaihis-salam itu HUDnaa (kami kembali bertaubat) dalam do’a itu.

Perjanjian dan Kitab Allah Dicampakkan

Perjanjian yang mereka campakkan itu adalah perjanjian akan ketaatan dan pembelaan mereka untuk kitab-kitab Allah dan kenabian Rasul-rasul Allah.
Perjanjian yang mereka lemparkan itu adalah perjanjian yang semestinya mereka penuhi dengan :  (1)  mengikuti kenabian, (2) menghalalkan yang baik-baik, mengharamkan yang buruk-buruk, (3) tidak membuat-buat beban yang datagnya dari selain Allah, tidak membebani diri dengan beban yang Allah tidak membebankannya karena kenabian ini telah membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka,  (4) beriman kepada Rasulullah, memuliakannya, menolongnya dan (5) mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an)

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di fihak mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan melepaskan dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 7/Al-A’raaf : 157)


Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) mencampakkan Kitab Allah ke belakang (punggung) nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah). (QS. 2/Al-Baqarah : 101)


Membuat-buat Beban yang Tidak Dibebankan Allah

Kenabian Rasulullah dengan Kitabullah Al-Qur’an melepaskan dari orang-orang Yahudi itu beban-beban dan belenggu-belenggu maka dengan membenarkan ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an dengan ketaatan diatas jejak kenabian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam terbebaslah mereka dari beban-beban dan belenggu-belenggu yang tidak dibebankan Allah.
Tetapi diantara orang-orang Yahudi tetap saja ada yang membebani diri dengan beban-beban yang tidak dibebankan Allah karena tidak cukup dengan argumentasi ketaatan sehingga mereka membuat-buat beban-beban yang menjadi belenggu-belenggu itu, mereka mengada-adakannya dengan berargumentasi akal. Itulah yang Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa firmankan :

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim.(QS. 62/Al-Jumu’ah : 5)

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 7/Al-A’raaf : 179)
 
Ibnu Numair menceritakan kepada kami dari Mujalid dari Asy-Sya’by dari Ibnu Abbas, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa berkata-kata pada hari Jum’at sedangkan imam sedang berkhutbah maka ia seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Dan orang yang berkata pada orang itu : “Diamlah engkau!”, tak ada baginya itu ibadah Jum’at. (HR. Ahmad)

Berangkat dari kehinaan mengada-adakan beban-beban yang membelenggu yang tidak dibebankan Allah dalam kitab-Nya untuk dibenarkan dengan ketaatan diatas jejak kenabian itu, mereka seperti KELEDAI yang membawa kitab-kitab yang tebal, maka kemudian mereka membuat rencana dan menjalankannya untuk mengKELEDAIkan bangsa-bangsa Non-Yahudi. Rencana itu diantaranya disebutkan sebagai berikut :

Pemerintah [Pemerintah Bangsa-Bangsa] kita ini dengan menghadirkannya sebagai Pelindung dan Pemberi anugerah akan semua mereka yang secara sukarela tunduk pada kita.
Aristokrasi (penguasa) Goyim (non-Yahudi) sebagai sebuah kekuatan politik telah mati - kita tidak perlu memasukkannya lagi dalam perhitungan; namun sebagai pemilik-pemilik tanah, mereka masih bisa membahayakan kita dengan adanya kenyataan bahwa mereka masih bisa mencukupi kebutuhan diri mereka sendiri pada sumberdaya-sumberdaya (tanah) di mana padanya mereka (bisa) hidup. Oleh sebab itu, penting sekali bagi kita, dengan cara bayar ongkos (pengorbanan) apapun, untuk mencabut tumpuan mereka pada tanah-tanah mereka. Sasaran ini paling tepat dibidik dengan meningkatkan beban-beban atas kepemilikan tanah tersebut - yakni dengan membebani tanah dengan hutang-hutang. Tindakan-tindakan ini akan mengurangi kepemilikan tanah dan membuat mereka tetap dalam keadaan yang rendah dan tunduk-patuh tanpa syarat.
Para aristokrat (penguasa dari kalangan ningrat) Goyim (non-Yahudi), yang turun-temurun tidak mampu berjuang mempertahankan diri mereka sendiri walau sedikit, akan dengan cepat menjadi hancur dan binasa.
Pada saat yang sama kita harus secara intensif mempatroni perdagangan dan industri, tapi yang pertama dan terpenting adalah spekulasi, bagian yang dimainkan untuk menyediakan penyeimbang bagi industri. Tidak adanya industri spekulatif akan melipatgandakan modal dalam genggaman pribadi. Dan akan berperan memulihkan pertanian dengan membebaskan tanah dari beban hutang pada bank-bank tanah. Apa yang kita inginkan adalah bahwa industri harus menguras habis dari tanah itu baik tenaga kerja maupun modalnya dan dengan cara-cara spekulasi untuk memindahkan semua uang di seluruh dunia ke dalam tangan-tangan kita, dan dengan demikian melemparkan seluruh Goyim (non-Yahudi) ke dalam derajat proletariat (kaum pekerja). Kemudian Goyim (non-Yahudi) itu akan membungkuk di hadapan kita, tak ada alasan (sebab) lain melainkan hanya untuk mendapatkan hak hidup mereka semata.
Untuk menyempurnakan keruntuhan industri Goyim (non-Yahudi) ini, kita akan jerumuskan ke dalam kemewahan untuk (menyebabkan terikat pada) bantuan spekulasi, yang kita telah kembangkan pada Goyim (non-Yahudi) itu tuntutan yang serakah akan kemewahan yang menelan segalanya.. Akan kita naikkan tingkat-tingkat upah, akan tetapi (kenaikan upah) yang tidak akan memberikan keuntungan apa pun kepada para pekerja (buruh), karena pada saat yang sama, akan kita naikkan harga-harga bahan-bahan pokok kebutuhan hidup dengan alasan (yang tidak sebenarnya) bahwa kenaikan itu disebabkan oleh penurunan hasil-hasil pertanian dan pembiakan ternak. Akan kita gali untuk menguras habis semakin dalam dengan penuh kelicikan sumber-sumber produksi, dengan membiasakan para buruh berbuat anarki dan mabuk-mabukan, dan bahu-membahu untuk melakukan semua tindakan pembabatan habis dari muka bumi ini seluruh daya kekuatan terpelajar Goyim (non-Yahudi).
http://www.biblebelievers.org.au/przion3.htm#PROTOCOL%20No.%206